TEHERAN, kritikpublik.id — Kawasan Timur Tengah berada di ambang jurang kehancuran total. Di tengah himpitan krisis ekonomi parah dan blokade sanksi global, rezim Teheran secara terbuka menempuh langkah ekstrem dengan bersiap menghadapi babak baru konfrontasi militer terbuka melawan Amerika Serikat dan sekutunya di Teluk.
Berdasarkan laporan eksklusif Wall Street Journal, Teheran tidak lagi sekadar bertahan. Melalui jalur privat maupun publik, para pejabat tinggi Iran menebar ancaman masif untuk melancarkan serangan balasan mematikan di seluruh kawasan apabila Washington melancarkan agresi baru pasca-pemilu sela.
Strategi Esktrem: Ancaman Serangan Darat hingga Blokade Infrastruktur
Langkah pencegahan yang diambil Teheran jauh melampaui eskalasi militer konvensional. Pejabat tinggi keamanan nasional Iran, Mohsen Rezaei, secara terbuka mengisyaratkan kesiapan pasukannya untuk menggelar serangan darat langsung ke negara-negara tetangga.
-
Target UEA dan Infrastruktur Digital: Uni Emirat Arab yang selama ini relatif aman kini berada dalam bidikan utama. Teheran bahkan mengancam akan memutus pusat data dan kabel internet bawah laut di kawasan strategis tersebut.
-
Fasilitas Minyak Saudi Jadi Sasaran: “Negeri Para Mullah” memberikan peringatan keras kepada para pejabat Arab bahwa kilang dan fasilitas minyak Saudi akan langsung dibombardir jika perang kembali berkobar.
-
Teror Drone dan Rudal: Ancaman ini bukan sekadar gertakan menyusul hantaman rudal milisi Houthi—proksi Iran—terhadap bandara di Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai ratusan korban jiwa.
Perkokoh Benteng Nuklir & Mobilisasi Warga Sipil
Di dalam negeri, mesin perang Iran digenjot secara masif. Citra satelit merekam pembangunan benteng pertahanan pasif berupa gundukan tanah darurat di sekitar situs nuklir sensitif seperti Gunung Pickaxe dan Natanz guna meredam potensi invasi darat.
Pemerintah juga menggencarkan indoktrinasi dan pelatihan militer massal bagi warga sipil:
-
Papan reklame di ibu kota Teheran secara agresif mempromosikan pelatihan rudal panggul antipesawat dan senapan runduk bagi masyarakat umum.
-
Fasilitas vital nasional—termasuk bandara, pelabuhan, dan pembangkit listrik—telah disulap menjadi zona siap perang lengkap dengan bunker perlindungan dan pasokan logistik cadangan.
Menurut pakar keamanan internasional, langkah agresif ini juga dimanfaatkan rezim untuk mengalihkan kemarahan domestik akibat ekonomi yang kancip dan pasar yang lumpuh.
“Dengan adanya perang baru, Iran bisa saja keluar dari jalan buntu yang mereka ciptakan sendiri—baik secara diplomatik, ekonomi, maupun politik,” tegas Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah di Chatham House, London.
Pentagon Siagakan Gugus Tugas Ketiga
Di pihak seberang, militer Amerika Serikat tidak tinggal diam. Pentagon langsung merespons eskalasi berbahaya ini dengan mengerahkan gugus tugas kapal induk ketiga beserta satu unit ekspedisi Marinir ke kawasan Timur Tengah. Tambahan sistem pertahanan udara Patriot dan amunisi jarak jauh juga disiagakan di pangkalan-pangkalan strategis kawasan.
Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menahan diri untuk tidak melancarkan serangan terbuka sebelum pemilu 3 November, opsi militer untuk melumpuhkan fasilitas nuklir Iran di Gunung Pickaxe tetap berada di atas meja.
Konflik di zona maritim Teluk pun kian membara. Setidaknya tiga kapal komersial dilaporkan menjadi korban serangan di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Sebuah drone misterius bahkan menghantam kapal tanker UEA Petro Dolphin hingga memicu kebakaran hebat dan hilangnya dua pelaut.
Kini, seluruh mata dunia tertuju ke Teluk. Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah perang babak baru akan pecah, melainkan kapan detonator terakhir akan menyulut ledakan total di Timur Tengah.







